Friday, June 5, 2009

duri-duri cinta eza :)


Setengah tahun yang lalu Eza dan Febri bertemu di hari ulang tahun Lila, sahabat Eza. Tiga bulan kemudian, Eza dan Febri jadian. Waktu tiga bulan pacaran merupakan waktu yang indah, tenang, nyaman dan dramatis bagi mereka.

Kesenangan, kesedihan, dan kebimbangan telah mereka lalui bersama. Berawal dari SMS romantis yang dikirim oleh Febri untuk Eza, dan Febri adalah kakak Lila satu-satunya, serta berawal dari kebersamaan Lila dan Eza-lah yang menjadikan Febri jatuh hati pada Eza.

Setelah jam sekolah selesai, Eza masih setia menunggui sahabatnya, Lila yang sedang berlatih upacara untuk persiapan tanggal tujuh belas tahun depan. Latihan upacara pun telah berakhir, mereka beranjak untuk pulang.

Tak disangka, mobil sedan warna hitam yang melaju cukup kencang dari arah kiri, berhenti tepat di depan mereka berdua, ternyata Febri dengan temannya Doni, yang konon ceritanya mulai jatuh hati pada Lila.

“Siang Za…!” sapaan manis untuk Eza dari pacarnya. “Saya antar pulang yuk Za…!” pinta Febri dengan penuh harap. Seketika, Donni yang duduk disamping Febri, keluar dari mobil dan mempersilakan Eza untuk masuk ke dalam mobil dan duduk disamping Febri, sedangkan Lila dan Donni duduk di belakang.
***
Malam Minggu ini tak seperti malam Minggu sebelumnya, kali ini Febri tidak mengajak Eza pergi keluar. Pikir Eza mungkin karena Febri sedang sibuk dengan kuliahnya, sebagai pacar yang baik sudah tentu Eza harus bisa memakluminya. Meski demikian, hal ini tetap saja membuat Eza bete alias booring time. Terpikir oleh Eza untuk pergi nonton walau tanpa mas Febri.

Setelah dua menit berlalu, Eza sampai di depan bioskop, tapi nasib tak berpihak padanya, semua tiket telah habis terjual. “Daripada langsung pulang, lebih baik aku jalan-jalan dulu sambil lihat barang-barang yang dijual di mall ini,” pikir Eza.

Ketika sampai di lantai dua, pandangan matanya tertuju pada laki-laki berbaju hitam yang sedang asyik menyantap makanan bersama seorang cewek cantik bermata sipit. “Apa aku tidak salah lihat? Itukan Febri. Tapi…cewek yang bersamanya bukan Lila. Lalu itu siapa? Setahuku, Febri tidak mempunyai saudara perempuan selain Lila,” seribu Tanya menghantui pikiran Eza.

Spontan Eza langsung menuju ke hadapan mereka untuk menyapanya. “Mas Febri! Makan malam kok gak ngajak-ngajak?” sapa Eza dengan ketus dan sewot. “Ooo…iy…iya Za, kamu mau gabung?” jawab Febri kaku. “Oh…enggak Feb, terima kasih, aku sudah mau pulang kok, mari mbak, Feb…?” dengan tebaran senyum pahit, Eza beranjak pulang.
***
Setelah kejadian malam itu, Eza jarang sekali bertemu dengan Febri. Memang Febri selalu berusaha untuk menemui Eza, tetapi Eza selalu menghindar. Bahkan Febri meminta bantuan Lila untuk mempertemukannya dengan Eza. Namun, karena Lila menghargai perasaan Eza, Lila selalu menolak ketika kakaknya itu meminta bantuan.

Febri tetap tidak mau putus asa, dia berusaha untuk menelfon Eza, tapi tidak pernah diangkat, SMS tidak pernah dibalas, karena Eza benar-benar marah pada Febri, Eza pun tidak percaya lagi pada Febri.

Febri selalu menunggu Eza pada jam-jam pulang sekolah, pada hari itu kebutuhan Febri melihat Eza berjalan sendirian, ia langsung mengejar Eza, dan Eza pun tidak bisa lagi menghindar dari Febri. “Mengapa sangat sulit bagiku untuk bertemu dan berbicara denganmu Za…? Selalu saja kau menghindar dariku.” Tapi Eza tak menjawab sepatah kata pun.

Lama sekali rasa hening menyelimuti mereka berdua. “Sudah saatnya kita akhiri permainan ini Feb,” jawab Eza. “Permainan…! Maksud kamu apa sih Za…?” tanya Febri yang tidak mengerti akan pertanyaan Eza. Eza hanya diam membisu tanpa kata, seakan membiarkan Febri dalam kebingungan.

“Oke…, sekarang kita omongin masalah ini disitu, kita duduk sebentar disitu,” telunjuk Febri menunjuk ke sebuah kursi yang berada di bawah pohon besar dan rindang. Akhirnya Eza hanya bisa mengikuti langkah Febri, walaupun dengan penuh keterpaksaan.

Hampir lima belas menit Eza dan Febri hanya diam, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka berdua. Febri hanya merobek-robek daun yang berguguran sembari sesekali melihat wajah Eza yang terlihat kecut dan tertunduk lesu.

“Za…, maksud kamu mengakhiri permainan ini, apa sih?” tanya Febri kemudian. “Aku sudah mengerti semuanya Feb, dan sekarang aku ingin mengakhirinya, aku tidak mau menjadi tokoh dalam sandiwara kamu dan mbak Fanny lagi.”

“Ngerti apa? Mengakhiri apa? Aku masih bener-bener tidak mengerti maksud kamu. Fanny…? Apa hubungannya dengan Fanny?” “Alah…enggak usah pura-pura dech Feb, mbak Fanny itu pacar kamu di kampus ini kan?”

Tidak terasa butiran-butiran air mata jatuh di pipi Eza dan Eza mulai bercerita, “beberapa hari yang lalu, mbak Fanny berkunjung ke rumahku dan bercerita panjang lebar tentang kisah cinta mbak Fanny dan kamu. Pada malam itu mbak Fanny berkata kalau aku tidak boleh mengganggu hubunganmu dengan mbak Fanny lagi.”

“Tapi Za…aku bisa jelasin semuanya ke kamu. Please…aku mohon dengerin penjelasanku.” “Feb, aku rasa tidak ada yang perlu dijelasin lagi, sori aku harus buru-buru pulang,” ucap Eza seraya berdiri meninggalkan Febri.

“Za…,” Febri menarik tangan Eza yang mulai beranjak dari kursi. “Aku mohon Za, dengarkan dulu penjelasanku, please,” bujuk Febri menghentikan langkah Eza. “Apa yang masih bisa kamu jelaskan Feb, belum maukah kamu jujur kalau semua yang aku certain ini benar,” ucap Eza menegas, sementara Febri tetap membisu,

“Ini permintaanku yang terakhir Feb, aku mohon sekarang kamu jujur padaku. Tatap mataku, terus kamu jawab apa kamu mempunyai hubungan dengan mbak Fanny? Itu benar kan Feb?” lagi-lagi Febri hanya diam.

Dengan emosi, Eza mengucapkan perkataan yang sebenarnya tidak ingin diucapkan oleh Eza, “makasih Feb…diamnya kamu sudah menjelaskan semuanya,” ucap Eza sembari beranjak meninggalkan Febri.

Akhirnya Febri mulai membuka mulutnya, ketika setelah tiga langkah Eza beranjak meninggalkan dirinya, “tunggu Za…, itu semua memang benar, aku memang pernah mempunyai hubungan yang spesial dengan Fanny. Namun itu dulu sebelum kita berhubungan, hubungan kami telah berakhir semenjak dia pergi ke London.”

Febri berhasil menuntun Eza untuk kembali duduk di kursi, rasa hening kembali menyelimuti mereka berdua. Eza tertekuk bingung harus mempercayai perkataan mbak Fanny yang baru saja ia kenal, atau Febri yang selama ini berada di hati Eza.

“Begini Za, kamu harus mempercayai aku,” pinta Febri penuh harap. “Mengapa aku harus mempercayaimu?” Eza semakin penasaran dengan perkataan yang telah terucap dari bibir pacarmu itu.

“Sebenarnya yang makan malam bersamaku, dan orang yang dating ke rumahku itu bukan Fanny, dia adalah Fian, adik kandung Fanny.” Eza semakin dibuat bingung oleh penjelasan Febri. “Lalu, Fanny dimana? Mengapa orang itu mengaku bahwa dirinya adalah Fanny dan menyuruhku untuk menjauhimu?”

Setelah menghela nafas panjang, Febri mulai bercerita kembali, “Fanny telah meninggal setahun yang lalu karena kecelakaan, pesawat yang dinaikinya tergelincir dan jatuh di lautan. Sampai sekarang jasadnya belum ditemukan, kami hanya mendapatkan informasinya saja tanpa melihat jasadnya.”

“Terus mengapa Fian pergi ke rumahku dan menyuruhku menjauhimu.” Pertanyaan itu kembali melantun dari bibir tipis Eza yang begitu merah dan menggoda.

Fian mengalami depresi setelah kematian kakaknya, dia tidak rela kalau orang yang sangat dicintai kakaknya dimiliki oleh wanita lain, dan dia masih belum percaya kalau kakaknya telah meninggal, serta dia berharap kalau kakaknya dapat kembali pulang.

“Sungguh aku sangat mencintaimu Za…, apa kamu rela kehilangan cintaku hanya karena masalah yang maya ini? Aku tidak mau kehilangan kamu Za dan aku akan berusaha agar aku tidak kehilangan kamu.”

Eza masih terteguk bingung, kejadian yang sulit untuk di mengerti ini, malah datang menghampiri tali kasih mereka berdua, rasanya mulut Eza sulit untuk digerakkan, sesungguhnya Eza juga tidak ingin kehilangan Febri dan hubungan yang telah mereka rajut bersama.

Akhirnya Eza mulai membuka mulutnya dan berkata, “Aku juga tidak mau kehilanganmu Feb, aku akan membantumu mempertahankan cinta kita. Kini kita hanya bisa berhati-hati, berharap dan berdoa agar hubungan kita jauh dari bencana,” ucap Eza. “Terima kasih Za, karena kamu mau mengerti,” kata akhir yang keluar dari bibir Febri.

Karena jalinan tali kasih antara Eza dan Febri sangat kuat, serta kepercayaan yang telah ditanam sejak lahirnya hubungan cinta mereka, membuat bencara apa pun yang mengancam, sulit untuk ke tengah-tengah hubungan cinta mereka. []

0 comments:

Post a Comment