Monday, July 27, 2009

sekolah anak petani jagung

Pagi-pagi sekali Aji sudah mengayuh sepedanya melewati pasar-pasar tradisional yang tengik. Roda-roda sepedanya yang sudah tidak lagi bulat akibat termakan usia, sedikit demi sedikit mulai tertutupi lumpur yang belum hilang akibat hujan semalam. Batu-batu besar terpaksa ia terjang demi mendapatkan lahan untuk meloloskan sepedanya. Di sekitarnya kerumunan manusia berjejalan mencari penghidupan dengan berjualan sayur dan buah-buahan dalam bakul rotan. Jalanan sempit selebar tiga meter itu sudah tidak mampu lagi menampung luapan manusia yang sibuk berniaga di pasar itu.

Sebuah mobil kijang buntung tahun 70an yang membawa hasil panen jagung dari desanya nekat menerobos jalanan yang sudah penuh sesak itu. Bunyi klakson beberapa kali terdengar nyaring pertanda kijang tadi sedang mencari celah untuk lewat. Beberapa pedagang marah-marah kepada si pengemudi kijang, karena jelas-jelas diujung jalan ada tanda dilarang masuk bagi kendaraan bermotor. Namun Aji tidak terlalu peduli, ia masih terus mengayuh sepadanya. Aji memang tidak tahu saat itu sudah jam berapa. Ia tidak memiliki jam tangan, dan ia juga tidak sempat melihat jam dinding waktu berangkat tadi. Tapi ia tahu apabila merah sudah menghiasi langit berarti ia sudah sangat terlambat. Kira-kira lima belas kilo meter sudah ia tempuh dengan sepada tuanya itu, berarti masih ada setengah perjalanan lagi. Sementara itu peluh sudah mulai membasahi keningnya dan asam laktat sudah mulai memenuhi persendian kakinya.

Sekolah dengan tiga ruang kelas itu terletak di desa Cibitung, tiga puluh kilometer ke arah Barat dari Dusun Lembung Asih. Dulu, waktu pertama kali sekolah itu dibuka oleh Bapak Camat, Aji sempat kaget melihat ayahnya berteriak-teriak kegirangan. Katanya dusun ini bakal maju, anak-anaknya bakal pintar-pintar. Dengan penuh sukacita ayah dan ibunya kemudian membawa Aji yang waktu itu masih berumur empat tahun untuk mendaftar di sekolah itu. Dan masih teringat jelas di kepala aji, pada waktu itu Bapak Kepala Sekolah Syarifuddin yang juga merangkap sebagai wali kelas 1 dan kelas 4 di SD itu tertawa geli melihat tingkah polah kedua orang tuanya itu. Kemudian beliau dengan penuh kesabaran menjelaskan bahwa mereka-mereka yang diterima di kelas 1 adalah anak-anak yang sudah bisa memegang daun telinga melewati bagian atas kepalanya. Dan pada waktu itu, bahkan untuk menyentuh ubun-ubun pun Aji masih belum bisa. Maka dengan sangat terpaksa mereka bertiga kembali pulang dengan perasaan kecewa. Tapi hari ini, keadaan sudah berbeda. Aji kini sudah berumur 7 tahun dan tangannya sudah cukup panjang untuk menyentuh telinganya. Maka hari ini, pagi-pagi sekali ia mencium tangan keriput kedua orang tuanya mengharap restu keduanya untuk menuntut ilmu.

Aji terlambat hampir satu jam lamanya, ia berjanji besok akan bangun lebih pagi. Beruntung baginya, karena tidak ada satu mata pelajaran pun yang terlewat. Hari ini adalah hari pertama sekolah, jadi sepanjang paginya hanya dihabiskan dengan mengobrol untuk saling mengenal satu sama lain. Walaupun sebenarnya mereka sudah saling kenal satu sama lain, kecuali gurunya. Siswa kelas satu hanya berjumlah enam orang, dan seluruhnya adalah teman main Aji di ladang. Jadilah pagi itu mereka semua ngobrol ngalor ngidul tidak karuan, kadang-kadang si guru bertanya kepada salah seorang dari mereka mencoba untuk mengorek sedikit info tentang mereka. Hingga tibalah giliran Aji yang ditanya.

“Nama kamu Aji Harjamukti kan?” Sang Guru membaca lembar absen yang ada di tangannya

“Iya Pak!” Aji menjawab dengan lantang. Pengalaman pertama selalu membuat dirinya diliputi perasaan ingin tahu yang membuncah. Mungkin itu juga yang membuat dirinya begitu bersemangat hari ini.

“Coba ceritakan sama Bapak, kenapa kamu bersekolah?” Sang Guru menyunggingkan senyumnya. Kumis tipis diatas senyumnya yang simetris membuat perangainya semakin terlihat berwibawa.

“Kata Ayah, orang yang sekolah bisa jadi pintar Pak! Kalau saya pintar kan saya bisa kaya. Kalau saya sudah kaya saya mau nyumbang orang-orang miskin yang gak bisa makan di dusun saya Pak.” Aji menjawab sambil memainkan ujung bajunya yang sudah kotor terkena cipratan lumpur sewaktu tadi bersepeda menuju sekolah. Sang Guru pun mengulum senyum, ia memaklumi kalau jawaban anak seumuran aji masih sangat polos.

“Bagus, bagus.. Lalu cita-cita kamu mau jadi apa?”

“Saya mau jadi petani jagung Pak, makanya saya sekolah. Biar bisa jadi petani jagung yang pintar.”

“Iya, kamu belajar yang rajin ya, biar kamu jadi orang yang pintar. Di sekolah kita nanti akan diajari banyak hal, mulai dari Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPA, IPS, dan masih banyak lagi. Kamu jadi bisa tahu banyak hal.” Sang Guru mencoba menjelaskan dengan bijak.

“Pak Guru, kalau cara menanam jagung diajari di sekolah juga?” Aji bertanya.

“O, kalau yang itu harus kamu pelajari sendiri..” Sang Guru menimpali sekenanya.

“Kalau pelajaran milih pupuk ada ga Pak?” Aji kembali bertanya.

“Yang itu juga tidak diajari disini Ji,” jawab sang guru sambil mencari nama baru yang akan ia tanyai berikutnya pada lembar absen.

Rupanya si Aji kecil masih tidak puas dengan jawaban gurunya. Ia merasa sangat heran mengapa pelajaran-pelajaran yang ia butuhkan malah tidak diajari di sekolah. Bukankah sekolah dibuat agar siswanya pintar?

“Kalau cara memandikan kerbau?”

“Hahaha.. Aji.. Aji.. Belajar hal-hal semacam itu bukan di sekolah dong tempatnya, kamu ini aneh-aneh saja” Sang Guru tergelitik hatinya mendengar pertanyaan-pertanyaan bocah berumur tujuh tahun yang masih sangat polos itu.

Aji terdiam sejenak. Ia tidak mengerti kenapa gurunya tertawa begitu keras, padahal ia sama sekali tidak melucu. Baginya sangat penting untuk tahu bagaimana caranya menanam jagung, karena kelak ia ingin sekali membantu ayahnya bekerja di ladang. Dan ia juga perlu tahu caranya memilih pupuk yang baik agar jagung-jagungnya tumbuh subur. Bahkan ia juga harus belajar bagaimana caranya memandikan si Bule, kerbau peliharaan ayahnya, karena kalau tidak dimandikan sehari saja baunya sudah sangat busuk. Aji benar-benar tidak mengerti apa yang lucu dari keinginannya itu. Bukankah menjadi petani jagung seperti ayahnya dan kebanyakan orang-orang di dusun Lembung Asih adalah pekerjaan yang mulia? Pekerjaan yang dapat memberi makan bagi banyak orang termasuk juga keluarganya. Lalu mengapa pelajaran menanam jagung tidak diajarkan di sekolah?

“Pak guru, kenapa menanam jagung tidak diajarkan disekolah saja?” Aji masih bertanya, mencoba memuaskan rasa ingin tahunya.

“Karena memang bukan di sekolah tempatnya belajar menanam jagung, di sekolah itu kita belajar matematika, bahasa Indonesia, IPA, IPS dan Bahasa Inggris. Itu sudah aturan dari sananya!” Sambil tersenyum simpul Sang Guru mencoba memberikan jawaban sebaik mungkin. Ia tahu bahwa selaku guru yang baik tugasnya tidak hanya menyampaikan isi buku, tetapi juga meladeni rasa ingin tahu setiap murid-muridnya.

“Kok gak diatur supaya kita belajar menanam jagung ya?”

Sang Guru memandang lekat-lekat mata anak didiknya itu, ia tahu kalau Aji adalah anak yang cerdas. Pada umumnya seorang anak seumuran Aji tidak mempertanyakan hal-hal yang sudah jelas. Tetapi berbeda dengan Aji, anak petani jagung ini sangat senang berdiskusi, logika berpikirnya pun sudah selangkah lebih maju ketimbang teman-temannya yang lain. Ia juga mampu menganalisis persoalan-persoalan sederhana yang terkadang tidak pernah terpikirkan untuk didiskusikan oleh para orang dewasa. Kali ini Sang Guru mencoba memutar otaknya, anak ini tidak bisa lagi ia pandang sebelah mata. Ia harus menemukan sebuah jawaban yang tepat untuk menjawab rasa ingin tahu si anak petani jagung ini.

“Aji, begini ya.. Pelajaran apa yang harus diberikan disekolah semuanya sudah diatur di dalam aturan bersama yang disebut kurikulum pendidikan. Kurikulum pendidikan itu dibuat sesuai dengan kebutuhan bangsa Indonesia saat ini. Matematika, Bahasa Inggris, IPA, dan IPS adalah ilmu-ilmu yang kita butuhkan. Pada masa sekarang ini kita tidak mampu menguasai ilmu dan teknologi yang sedang berkembang di dunia. Dan ini yang selalu menjadi masalah buat kita. Bangsa Indonesia kalau mau maju harus mampu menguasai ilmu dan teknologi yang saat ini sedang berkembang di dunia. Hal itu juga yang menyebabkan bangsa kita selalu miskin dan kelaparan. Banyak orang-orang tidak menyadari arti pentingnya pendidikan. Terkadang peraturan pemerintah pun tidak memihak pada peningkatan pendidikan di Indonesia, sekolah-sekolah dibiarkan ambruk dan gaji guru pun sangat minim. Di sisi lain masyarakatnya pun masih ogah-ogahan untuk menyekolahkan anak-anaknya, padahal lewat sekolahlah anak-anak mereka dapat merubah nasib keluarganya. Untuk itu Bapak mau mengajar di dusun kecil seperti ini walaupun bayarannya tidak seberapa. Bapak ingin menumbuhkembangkan kesadaran berpendidikan di kalangan rakyat kecil. Bapak ingin semua anak-anak di dusun ini bersekolah…” Pak guru menghela nafas panjang. Dari sorot matanya Aji tahu Pak Guru sekarang sedang mengatakan sesuatu yang sangat serius.

“Ji, kamu ingat baik-baik ya.. Pendidikan adalah satu-satunya solusi dari permasalahan hidup yang sedang dihadapi bangsa kita. Melalui pendidikanlah segala persoalan hidup dapat dengan mudah kamu lalui, melalui pendidikan juga kamu dapat membawa kesejahteraan bagi orang-orang di sekitarmu, dan pendidikan juga yang mampu menghantarkan negara ini ke puncak kejayaan. Kamu mau kan ikut berbakti untuk negara?”.

“Iya, mau Pak!”

“Untuk itu kamu jangan sampai malas sekolah ya?” Sang Guru memandang serius sambil menepukkan tangannya di pundak Aji. Dalam hatinya ia merasa sangat puas dengan jawabannya yang sudah ia utarakan dengan panjang lebar. Tidak sia-sia ia menjadi seorang guru. Pada tahap ini ia merasa sangat pintar.

Aji mengangguk keras sekali, matanya berkaca-kaca. Aji merasakan semangatnya meledak-ledak di dalam dadanya. Ia sebenarnya tidak terlalu mengerti apa yang dimaksud dengan kurikulum. Dan ia juga tidak mengerti sebenarnya ilmu dan teknologi macam apa yang harus dikuasai oleh seorang anak petani macam ia agar dapat mengangkat bangsa ini menjadi bangsa yang maju. Tapi kini ia menemukan alasan yang tepat mengapa ia harus sekolah. Yaitu untuk menyelesaikan permasalahan hidup. Paling tidak itulah yang tadi dikatakan gurunya. Ya, pendidikan dibuat untuk menyelesaikan permasalahan hidup dan membawa kesejahteraan bagi orang banyak.

Semua orang di dusun ini juga tahu yang selalu menjadi masalah bagi Dusun Lembung Asih adalah tikus sawah. Tikus sawah selalu mau enak sendiri, seenaknya saja menggerogoti tanaman jagung yang sudah susah payah ditanami oleh warga. Ia tidak mau dusunnya kelaparan lagi seperti tahun kemarin saat terjadi gagal panen akibat jagung-jagungnya digerogoti tikus kotor. Aji ingin dapat menyelesaikan permasalahan hidup dusun ini, ia ingin dapat mengusir tikus sawah untuk selama-lamanya. Dan ia yakin sekolah inilah yang akan menjadi solusi bagi permasalahan hidup dusun ini. Dalam hati Aji berjanji akan belajar sunggung-sungguh ketika nanti diajari cara mengusir tikus sawah. Entah itu nanti akan dipelajarinya di pelajaran Matematika atau mungkin di pelajaran Bahasa Inggris, Aji tidak tahu.

0 comments:

Post a Comment