Tuesday, December 15, 2009

mom

Ibu, jika esok aku beranjak dewasa...
Akankah aku tetap lugu dan bijaksana?
Andai esok aku beranjak mandiri, akankah aku masih manja?
Bila esok aku beranjak pergi, akankah kelak aku 'kan kembali lagi?

I need u survive, Mum...
Survive to watch me grow up according u'r plan...

Ibu, seandainya esok aku telah dewasa... Akankah kamu 'kan menjagakan ayah dan saudara-sadaraku untukku?
Karena mungkin aku tak mampu untuk itu oleh manjaku.
Jika esok aku telah mandiri, bolehkah aku memilih satu sahabat saja yang bisa menyayangiku seperti kamu menyayangiku?

Apabila esok aku telah kembali, aku ingin menjadi sempurna karena masih memilikimu.
Ibu, sebenarnya aku ingin mengadu kepadamu.
Baru saja aku kehilangan asa dan citaku, bahkan temanku.

Tak tahu mengapa, dan bagaimana.
Bukan karena bodoh dan miskinku, tapi mungkin karena aku gampang terlupakan.
Ibu, jangan marah akan gagalku menjadi seperti yang kamu minta.
Tapi nasib sedang bermain congklak pada hidupku, mengkultuskan dirinya sendiri.
Ibu, inilah aku...

Jika kamu mendapatiku menangis dalam pangkuanku, aku tak ingin kamu membelaiku tenang, karena aku tak sanggup jika harus dikasihani olehmu...
Dia yang berbentuk mereka bukannya sengaja menjadi temanku lalu mengecewakanku, tapi aku yang keliru berharap banyak dari mereka.

Ku pikir ku bisa jika bersamanya...
Tapi sekali lagi ku keliru...
Ibu, kini aku telah dewasa, semi-mandiri, dan pergi darimu...
Akankah ku temukan bahagia seperti kala masih dalam pangkuan dan belaianmu?
Aku ingin kembali, bu.

Kembali menjadi kanak-kanak yang tertidur kala Ibu menjelajah di kepalaku untuk seekor kutu, mengolesi minyak gosok pada lubang telingaku dengan kapas, dan tertidur dalam hangat pelukmu, serta merawat jemariku dengan memotong kuku-kuku kotorku setiap minggunya.
Pertemanan kanak-kanak tak perlu serumit ini. Paling saling berebut mainan, ada yang akhirnya menangis, tapi sesaat akan akur lagi seakan tak pernah terjadi apa-apa.
Sedangkan kini, pertemanan kala dewasa menjamah...
Bahkan dendam senantiasa ikut bermain pula.
Saling menyakiti terkadang.
Ibu, kapan lagi aku dinina-bobokan olehmu, bernyanyi pelan di ujung telingaku, menemani pembaringanku hingga sang mimpi menyelimuti tubuh mungilku?

Sebenarnya aku masih lemah, bu.
Sama seperti kala kecilku yang sering sakit-sakitan, menyusahkanmu ke manapun kamu membawaku.

Sesungguhnya aku ingin menangis, bu. Menangisi betapa seumur hidupku belum kudapati kesempurnaan pertemanan. Selalu ada yang mengecewakanku. Aku ingin menagisinya hingga rasanya aku lupa akan adanya bahagia dan keceriaan.

Aku, masih lemah seperti kala kecilku.
I can't survive, mum. I can't sleep silently.

Ibu, sampaikan pada ayah... Aku tetap menyayanginya walau aku tak membanggakannya. Salamkanku pada saudara-saudaraku, bu. Aku terkadang menyulitkan mereka, menyakitinya dengan egoku.

Am I oke?
Am I will be fine?
Be strong, maybe?

Selalu datang dan pergi. Aku tetap memeluk paham itu. Tapi... Yang aku sesali, mengapa semua datang di saat terindah dan pergi di saat terindah pula.
Ibu, jemputlah aku. Bawalah aku kembali pada pelukanmu. Sihirlah aku menjadi kanak-kanak lagi.
Ibu, jemput aku...


I CALL HER WITH BUNDA

aku mencintaimu bunda..


aku menyayangimu bunda..


aku bukan anakmu yang sempurna.
yang bisa penuhi segala inginmu
aku bukan anak sempurnamu
masi penuh dengan kurangku..
aku bukan anak sempurnamu
yang selalu menurutimu


aku berdosa bunda....
aku tak mampu menjadi anak sempurnamu..


aku berdosa bunda..
pagi ini kembali kusakiti hati mu.
bunda yang telah merawatku hingga kini..


airmata ini bunda.
bukan karena sakit hatiku..


airmata ini bunda.
karena cintaku padamu...


airmata ini bunda..
karena ku takut pada mu bunda..


airmata ini bunda..
karena ku takut akan doa2mu yang menjadi restu TUHAN untukku..


airmata ini bunda.
karena ku percaya cintamu adalah cinta TUHAN..


airmata ini bunda..
karena kumencintaimu..
tak mampu melawan mu..


hanya berdoa..
semoga...
kata2mu hanyalah emosi belaka bunda..
berharap..
agar kata2mu pagi ini..
bukan lah doa..
dan DIA pun sedang pekak sejenak...
hingga tak mendengar kata2 itu..


aku mencintaimu bunda..
airmata ini karena cintaku padamu bunda..

0 comments:

Post a Comment